Minggu, 22 April 2018

Nilai-Nilai dalam Cerpen



Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Berbagai karakter tokoh yang ditampilkan pada cerpen dapat berupa protagonis ataupun antagonis. Berdasarkan tokoh-tokoh tersebut kita dapat menemukan nilai-nilai kehidupan, yaitu perbuatan baik yang harus ditiru dan perbuatan buruk yang harus dijauhi.

Nilai adalah sesuatu yang penting, berguna, atau bermanfaat bagi manusia. Dengan demikian, nilai-nilai kehidupan dalam cerpen adalah sesuatu yang bermanfaat yang terdapat pada cerpen yang dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerpen

Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.   Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak/budi pekerti/susila atau kepada baik buruk tingkah laku.

Contoh:
Setelah pagi-pagi hari, maka berkatalah Si Miskin kepada istrinya, “Ya, tuanku, matilah rasku ini, sangatlah sakit rasanya tubuh ini. Maka tiadalah berdaya lagi; hancurlah rasanya anggotaku ini.” Maka ia pun terseduh-sedulah  menangis,  maka  terlalu  belas  rasa  hati isterinya  melihat  laku
suaminya. Demikian itu; maka ia pun menangis pula seraya mengambil daun kayu, lalu dimamahnya, maka disapukannyalah seluruh tubuh suaminya, sambil ia berkata, “Diamlah tuan jangan menangis!” sudahlah dengan untung kita, maka jadi selaku ini!”

Pada cuplikan cerita tersebut ingin disampaikan bahwa seorang istri sudah selayaknya menemaninya istrinya baik dalam suka maupun duka. Seorang istri harus dapat merasakan kepedihan suaminya. Makna ini termasuk ke dalam nilai moral juga nilai budaya, karena sudah menjadi adat istri harus setia pada suaminya.

2.   Nilai sosial/kemasyarakatan, yaitu nilai yang berkaitan dengan norma yang berada di dalam masyarakat.

Contoh :
Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk.

Pada cuplikan tersebut ingin disampaikan rasa peduli akan lingkungan sekitarnya. Berarti lelaki tersebut tidak memiliki rasa sosial yang baik. Sikapnya juga dapat mengandung nilai moral dan nilai etika. Namun, jika dicermati cerita tersebut menitikberatkan pada nilai sosial.

3.   Nilai pendidikan/edukasi, yaitu nilai yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku dari baik ke buruk  (pengajaran).

Contoh :
Jakarta terkurung dalam kutukan karena kejahatan kemanusiaan yang didewakannya selama lebih dari tiga dasawarsa menjelang akhir abad keduapuluh. Ingatan kolektif penduduknya bisa lenyap. Tetapi, zaman tak pernah akan lupa bahwa pada waktu itu ratusan ribu orang dibunuh seperti tikus comberan. Anak-anak muda yang ganteng dan manis-manis,
yang bercita-cita sangat sederhana, hanya sekedar untuk bisa meludah karena tak tahan mencium bau amis para penguasa yang durjana, diculik dan dilenyapkan rezim bersenjata.

Pada cuplikan ini tergambarkan sindiran terhadap penguasa dan ini mengandung nilai pendidikan.

4.   Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat istiadat.

Contoh :
Lalu Marakarma kembali ke Negeri Puspa Sari dan ibunya menjadi pemungut kayu.  Lalu  ia  memohon  kepada  dewa  untuk mengembalikan keadaan Puspa Sari. Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.

Pada cuplikan tersebut bermakna seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Ini mengandung nilai budaya.

5. Nilai estetis/keindahan, yaitu nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik/menyenangkan (rasa seni).

Contoh
Lebaran. Tanah boleh basah. Udara boleh lembap. Angin menyelusup di sela-sela daun gugur.  Awan kelabu. Matahari sembunyi di baliknya. Hujan tiba-tiba rajin membasahi bumi. Kota menjadi basah. Terus-menerus basah. Juga jalan-jalan dan halaman rumah. Orang-orang bergegas menghindarinya. Genteng-genteng coklat di perumahan yang tumbuh merapat, berubah warna menjadi lebih tua dari biasanya

Pada cuplikan tersebut tergambar suasana latar, ini mengandung nilai estestis.

6.   Nilai etika, yaitu nilai yang berkaitan dengan sopan santun dalam kehidupan.

Contoh :
Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk.

Pada cuplikan cerpen ini jelas tergambar bahwa lelaki itu tak memiliki sopan santun dan ini mengandung nilai etika.

7.   Nilai politis, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemerintahan.

Contoh
Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.
Cuplikan ini bermakna siapa yang berbuat jahat, ia akan kalah. Dalam hal ini adalah Maharaja Indra Dewa menyerang Puspa Sari. Ini berarti mengandung nilai politik.

8.   Nilai religius/keagamaan, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.

Contoh:
Raja Ikan Todak telah memenuhi janjinya membangun pulau untuk Datu Mabrur. Di karang pertapaannya dia memanjatkan puji dan syukur kepada
Sang Pencipta. Pulau itu dinamakan Pulau Halimun yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Laut.

3 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html